Flexitarian, Metode Atur Pola Makan Yang Menjadi Tren Positif Di Tengah Pandemi

BrandzView - Pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan drastis pada gaya hidup masyarakat, termasuk di Indonesia.

Untuk meminimalisasi risiko penyebaran penyakit tersebut, aktivitas di luar ruangan dibatasi. Protokol kesehatan menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) pun terus digaungkan di berbagai sektor.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan pola makan bernutrisi dan olahraga secara teratur. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga risiko terpapar Covid-19 lebih rendah.

Terkait pola makan, saat ini banyak metode berkembang di tengah masyarakat. Salah satu yang menarik untuk disimak adalah metode flexitarian.

Metode tersebut dipopulerkan pada 2008 oleh pakar diet berlisensi dari Amerika Serikat, Dawn Jackson Blatner.

Flexitarian berfokus pada peningkatan konsumsi buah dan sayur, baik melalui konsumsi langsung, dalam bentuk olahan pangan, maupun jus yang dibuat murni dari 100 persen buah dan sayur segar.

Meski demikian, nutrisi tambahan lain, seperti karbohidrat dan protein hewani, tidak dihilangkan sepenuhnya, tetapi dikurangi porsinya. Metode ini pun tidak memiliki aturan baku terkait rekomendasi jumlah kalori yang dikonsumsi.

Secara garis besar, metode tersebut mendorong masyarakat untuk menerapkan pola makan sehat dan konsumsi nutrisi seimbang yang berkelanjutan dibandingkan jenis diet yang instan. Flexitarian pun dinilai ideal di tengah kondisi pandemi karena daya tahan tubuh relatif lebih terjaga.

Selain itu, berdasarkan riset pada jurnal ilmiah Frontiers In Nutrition, metode flexitarian dapat menurunkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Tantangan flexitarian

Sekilas, metode flexitarian tampak mudah untuk dijalankan karena tidak memiliki banyak pantangan. Namun, metode ini memiliki tantangan tersendiri, seperti masa simpan buah dan sayur yang relatif lebih singkat. Lantaran hal tersebut, buah dan sayur kemungkinan bisa mengalami kerusakan atau penurunan kandungan nutrisi jika disimpan terlalu lama.

Pola makan flexitarian makin tren selama pandemi Covid-19.Dok. Shutterstock/Prostock-studio Pola makan flexitarian makin tren selama pandemi Covid-19.

Sebagai solusi, Anda bisa mengombinasikan pembelian buah dan sayur segar dengan jus buah dan sayuran yang dibuat dengan teknologi yang tepat seperti cold-pressed. Kemudian, sebagai bahan baku jus, gunakan 100 persen buah dan sayur segar, tanpa tambahan air, pengawet, gula, pemanis buatan, ataupun bahan lainnya.

Karena menggunakan hanya bahan-bahan segar (mentah) tanpa proses pemanasan maupun pasteurisasi, proses pembuatannya pun harus ultrahigienis agar aman untuk dikonsumsi.

Jus dari olahan cold-pressed pun mengandung serat larut air (soluble dietary fibre) yang berfungsi sama dengan serat buah dan sayur utuh, yakni melancarkan proses pencernaan dan memelihara kesehatan usus.

Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, tidak ada yang lebih unggul di antara serat larut air dan serat tidak larut air. Keduanya sama-sama memiliki manfaat positif untuk pencernaan tubuh.

Adapun jumlah serat yang direkomendasikan adalah 14 gram per 1.000 kalori dari pola makan atau 28 gram untuk kebutuhan 2.000 kalori per hari. Jumlah itu dapat dipenuhi melalui konsumsi berbagai jenis panganan nabati dengan jus sebagai pelengkap. Kini terdapat banyak pilihan produk jus yang tersedia di pasaran. Salah satunya adalah Re.juve.

Salah satu keunggulan produk jus Re.juve adalah penggunaan teknologi cold-pressed. Dengan teknologi ini, kandungan nutrisi pada buah dan sayur dapat dipertahankan. Buah dan sayur yang diproses pun terhindar dari panas serta oksidasi.

CEO dan Presiden Direktur Re.juve Richard Anthony mengatakan, produk Cold-Pressed Juice Re.juve hanya menggunakan 100 persen bahan-bahan alami dari alam, seperti sayuran organik, buah berkualitas unggulan, atau rempah pilihan.

“Bukan jus konsentrat yang diproses dan dijamin tanpa tambahan bahan lain, seperti air, gula, pemanis buatan, dan bahan kimia yang dapat membahayakan tubuh,” ujar Richard dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (16/12/2020).

Richard menambahkan, Re.juve merupakan brand with integrity atau merek dengan integritas yang selalu berkomitmen untuk selalu jujur dan transparan dalam deklarasi bahan-bahan yang digunakan di seluruh produk unggulan yang disajikan bagi setiap konsumennya. Seluruh produk jus cold-pressed dari Re.juve dijamin selalu 100 persen segar, murni dan alami.

Untuk menjaga kualitas produknya, Re.juve menggunakan teknologi High-Pressure Process (HPP). Teknologi ini dapat menjamin keamanan produk-produk minuman Re.juve dengan tetap menjaga rasa, kesegaran, dan kandungan nutrisinya, sekaligus memperpanjang shelf life atau masa pajang produk tanpa bahan pengawet. Sebagai informasi, teknologi HPP Re.juve merupakan yang pertama di Indonesia.

Tak hanya metode dan teknologi terbaik, Re.juve juga memperhatikan tingkat kebersihan dalam proses pembuatan produknya. Hal ini diwujudkan melalui pengaplikasian metode end-to-end cold-chain environment di Cold-Pressed Production Facility yang bersertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Melalui metode tersebut, Re.juve mengatur suhu dari awal proses produksi hingga ke tangan konsumen, yakni 8-12 derajat Celcius untuk proses produksi dan 0-4 derajat Celcius untuk penyimpanan.

Selain itu, air yang digunakan untuk membersihkan buah dan sayur memiliki standar kualitas air minum dan atau air reverse osmosis (RO water). Hal ini bertujuan untuk mencegah paparan bakteri, mikroorganisme, dan residu pada buah dan sayur yang digunakan.

Richard mengatakan, mengonsumsi sayur atau buah dalam bentuk jus tentunya dapat menjadi pilihan praktis. Akan tetapi, informasi kandungan dan cara penyajian jus penting untuk diperhatikan.

“Satu botol Re.juve ukuran 435 mililiter (ml) dibuat hanya dari sayur organik dan buah asli segar sebanyak hampir 1 kilogram (kg) tanpa tambahan bahan apapun,” terang Richard.

Karena hanya dibuat dari buah dan sayur segar dengan teknologi true cold-pressed, lanjut Richard, manfaat serat tetap bisa diperoleh walaupun dalam bentuk jus. Contohnya, varian cold-pressed juice terlaris Re.juve, Asian Green, mengandung serat pangan 6 gram untuk setiap satu botol 250 ml.

Richard merekomendasikan, saat mengonsumsi jus, penambahan gula, seperti sukrosa dan fruktosa, maupun pemanis buatan tidak diperlukan, bahkan harus dihindari. Sebab, jus buah segar telah mengandung fruktosa, atau gula buah yang memberikan rasa manis alami.

Buah segar tidak hanya mengandung fruktosa alami, tetapi juga vitamin, mineral, dan phytochemical yang memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Manfaat inilah yang tidak dapat diberikan oleh gula atau pemanis buatan lainnya.

Sejalan dengan misi #LiveHappier, Re.juve terus berupaya untuk menghadirkan produk-produk yang sehat sekaligus enak untuk dikonsumsi. Dengan demikian, masyarakat dapat mempertahankan gaya hidup sehat yang berkelanjutan dengan cara-cara yang menyenangkan.

“Sebagai merek yang konsisten menyediakan asupan nutrisi berkualitas bagi masyarakat, kami akan terus berupaya untuk menyediakan produk-produk buah dan sayuran organik terbaik dalam kemasan yang praktis,” imbuh Richard.

Richard menambahkan, Re.juve ingin menjadi pelopor tren flexitarian yang positif ini.
“Kami berharap, masyarakat dapat terus tergerak untuk memiliki gaya hidup yang sehat dan berkelanjutan melalui konsumsi nutrisi seimbang,” ujar Richard.

Produk-produk Re.juve dapat diperoleh melalui gerai fisik, delivery hotline, dan situs https://rejuve.co.id/. [Source:Kompas]